OPUS DEI : “Sepak Terjang Kelompok Misterius Katolik”
John L. Allen, Jr
Jakarta: Pustaka Alvabet, Juni 2007
Diterjemahkan Nurcholis & Muh. Syukri
Beberapa tahun yang lalu seseorang pernah mengatakan pada saya untuk tidak pernah membaca “Maria Magdalena” yang kala itu menjadi perbincangan. Katanya iman saya tidak akan kuat (nggak perlu dikatakan apa agama saya kan?!). Seketika saya tertawa dan sejak itu bisa memahami orang seperti apa teman saya itu. Mungkin dia ingat peristiwa itu kalau ia membaca review ini. Khusus untuk orang seperti itu, saya ingin ia (seperti yang dikatakan Kahlil Gibran) untuk meninggalkan segala atribut agama, prasangka, asal daerah, perbedaan jenis kelamin, atau apapun yang menjadi ketakutannya, di luar rumah saya. Bila ia ingin membaca buku ini. Kita perlu memahami dan mengerti. Bukan mengadili dan mengelompokkan. Biarlah buku ini memenuhi tugas mulianya. Sebuah jendela.
Mari saya kenalkan pada si penulis buku. John L. Allen adalah koresponden Vatikan untuk National Catholic Reporter (NCR), serta analis Vatikan pada CNN dan National Public Radio. Empat bukunya mengenai gereja Katolik antara lain, The Rise of Benedict XVI, Conclave: the Politics, Personalities, and Process of the Next Papal Election (1992). Ia meraih gelar master di bidang studi agama dari Universitas Kansas, dan kini bermukim di Roma, Italia.
Sejak awal penulisnya memperkenalkan Opus Dei yang dalam bahasa Latin berarti “The Work of God”, ingin menggaris bawahi kedudukannya sebagai seorang jurnalis. Tidak berpihak pada mereka yang menganggap Opus Dei sebagai sekte sesat, maupun mereka yang mendukung kelompok Opus Dei. Ia merupakan seorang pelajar yang rajin menggali sampai ke akar kontroversi Opus Dei. Dari asal pemikiran Opus Dei yang di awali oleh Biarawan Sacriva dari Spanyol, sifat low profile para anggotanya, bahkan kebiasaan menyakiti diri sendiri oleh beberapa petinggi Opus Dei dibahas tuntas dari sudut pro dan kontra. Setengah dari nara sumbernya adalah mereka yang pernah menjadi Opus Dei namun merasakan ketidak cocokan dalam Karya (Opus Dei sering disebut “Karya” oleh mereka yang membicarakannya) dan mundur dari organisasi.
Kelompok yang disorot tajam sejak The Da Vinci Code ini rupanya memiliki berbagai dasar pemikiran tentang pekerjaan yang dilakukan umat Kristiani di dunia. Mereka meyakini bahwa setiap pekerjaan yang dilakukan harus diimani dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh karena sebenarnya mereka bekerja pada Allah sendiri. Tidak heran misalnya, bila ada anggotanya yang mengambil jalan lebih lama ke tempat kerja atau tujuan mereka. Biasanya orang-orang ini mengambil inisiatif untuk membaca Rosario saat dalam perjalanan ke tempat kerjanya. Bahkan bila dilihat dari jumlah relawan yang bahkan tidak beragama Katolik namun bersimpati dan menolong kegiatan Opus Dei, kelihatannya sudut pandang mereka memiliki pengagum tersendiri.
Organisasi yang berawal dari panggilan Romo Escriva di Spanyol ini kini telah berkembang dan memiliki kantor cabang diberbagai kota besar didunia. Beberapa afiliasi bahkan dengan terang-terangan mengakui kedekatannya dengan Karya. Organisasi sendiri punya kecenderungan yang tinggi untuk tidak mengatakan status mereka sebagai Opus Dei. Kamu akan menjumpai keheranan beberapa petinggi Opus Dei akan kecenderungan ini. Dan untuk itu silakan membaca sendiri buku menakjubkan ini karena hanya sejauh inilah aku bisa objektif (jujur saja
.



No Comments/Trackbacks for this post yet...